Surabaya, dijuluki Kota Pahlawan, bukan sekadar kota metropolitan dengan hiruk-pikuk moderya. Di balik gedung-gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan megah, tersimpan sebuah permata sejarah yang sarat akan kisah perjuangan dan akulturasi budaya: Kota Tua Surabaya. Bagi Anda pencinta sejarah, arsitektur kolonial, daarasi heroik, kawasan ini adalah museum terbuka yang wajib dijelajahi.

Lupakan sejenak panduan wisata konvensional yang hanya menyentuh permukaan. Artikel ini akan membawa Anda menyelami lebih dalam denyut nadi masa lalu Surabaya, dari gemerlapnya pusat perdagangan di era kolonial hingga kobar semangat arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan. Bersiaplah untuk pengalaman jelajah yang jujur, penuh tips lapangan, dan tentu saja, menemukan “harta karun” tersembunyi.
Daftar Isi
- Mengapa Kota Tua Surabaya Wajib Masuk Daftar Jelajah Anda?
- Napak Tilas di Jantung Sejarah: Destinasi Kunci yang Tak Boleh Terlewat
- Persiapan Jelajah: Waktu Terbaik dan Cara Menuju Lokasi
- Menjelajahi Kota Tua Surabaya: Pilihan Transportasi di Lokasi
- Tips Lapangan dari Jurnalis Travel Senior Balioh Trans
- Estimasi Waktu dan Itinerari (Contoh)
- Menemukan Harta Karun Lokal: Rekomendasi Kuliner Otentik
- Jejak Perjuangan: Lebih dari Sekadar Bangunan Tua
- Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
Mengapa Kota Tua Surabaya Wajib Masuk Daftar Jelajah Anda?
Kota Tua Surabaya adalah salah satu saksi bisu paling penting dalam sejarah Indonesia. Peraya sebagai kota pelabuhan utama sejak era Majapahit, kemudian menjadi pusat perdagangan dan administrasi VOC hingga Hindia Belanda, membentuk karakteristik uniknya. Di sinilah berpadu arsitektur kolonial Eropa yang megah, jejak-jejak permukiman Arab dan Pecinan, serta semangat perjuangan yang tak pernah padam.
Anda tidak hanya akan disuguhkan bangunan-bangunan tua yang estetik, tetapi juga narasi heroik yang melatarinya. Peristiwa 10 November 1945, yang memicu Pertempuran Surabaya, adalah salah satu episode paling berdarah dan membanggakan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Menjelajahi Kota Tua Surabaya adalah perjalanan edukasi yang imersif, jauh lebih hidup daripada membaca buku sejarah.
Keunikan laiya terletak pada perpaduan budayanya. Kawasan ini bukan hanya tentang Belanda; ada pula jejak komunitas Arab di Ampel dan Pecinan di Kembang Jepun yang telah berinteraksi selama berabad-abad, menciptakan lanskap sosial dan ekonomi yang dinamis. Ini adalah kesempatan langka untuk melihat mozaik budaya Indonesia secara langsung.
Napak Tilas di Jantung Sejarah: Destinasi Kunci yang Tak Boleh Terlewat
Siapkan sepatu ternyaman Anda, karena sebagian besar eksplorasi Kota Tua Surabaya paling maksimal dilakukan dengan berjalan kaki. Berikut adalah destinasi-destinasi ikonik yang wajib masuk itinerari Anda:
Jembatan Merah: Saksi Bisu Pertempuran Dahsyat
Inilah titik nol pertempuran paling epik di Surabaya. Jembatan Merah bukan hanya jembatan biasa; ia adalah palagan di mana Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby terbunuh, memicu ultimatum Inggris dan perlawanan sengit arek-arek Suroboyo. Berdirilah di sini, bayangkan riuhnya suara tembakan dan teriakan perlawanan. Di sekitarnya, banyak bangunan tua yang masih bertahan, seolah menceritakan kembali kisah kelam namun heroik tersebut.
House of Sampoerna: Melintasi Waktu Lewat Aroma Tembakau
Kompleks pabrik rokok kuno yang kini disulap menjadi museum ini adalah salah satu yang terbaik. Anda akan disajikan sejarah keluarga Sampoerna, proses pembuatan rokok kretek secara tradisional, hingga melihat langsung para buruh melinting rokok dengan kecepatan luar biasa. Arsitektur kolonialnya sangat terawat, dan museum ini menawarkan tur bus gratis ke sekitar Kota Tua dengan pemandu yang berpengetahuan. Ini adalah perpaduan sejarah industri, arsitektur, dan budaya yang sempurna.
Museum Sepuluh Nopember & Tugu Pahlawan: Mengenang Heroisme Arek-Arek Suroboyo
Tugu Pahlawan adalah monumen kebanggaan warga Surabaya yang menjulang tinggi, didedikasikan untuk para pahlawan yang gugur pada Pertempuran Surabaya. Di bawahnya, terdapat Museum Sepuluh Nopember yang menyimpan artefak, diorama, dan rekaman suara pidato Bung Tomo yang membakar semangat. Jangan lewatkan kesempatan untuk mendengar suara asli Bung Tomo yang legendaris. Museum ini memberikan pemahaman mendalam tentang semangat kepahlawanan dan kegigihan bangsa dalam merebut kemerdekaan.
Museum Bank Indonesia Surabaya (bekas De Javasche Bank): Kemegahan Arsitektur dan Sejarah Moneter
Gedung eks De Javasche Bank ini adalah salah satu contoh arsitektur neoklasik yang paling megah di Surabaya. Dibangun pada 1910, bangunan ini menyimpan sejarah panjang perbankan di Indonesia. Museumnya modern dan interaktif, menampilkan koleksi mata uang kuno, alat perbankan, daarasi evolusi sistem keuangan Indonesia. Ini adalah destinasi edukasi yang menawan bagi penggemar sejarah ekonomi dan arsitektur.
Gedung Internatio & Kawasan Kalimas: Episentrum Perdagangan dan Konflik
Gedung Internatio adalah bangunan yang masih menyimpan jejak peluru dari masa perang. Di dekatnya, terdapat kawasan Kalimas dengan perahu-perahu tradisional yang masih beroperasi, mengingatkan pada masa kejayaan Surabaya sebagai pelabuhan. Area ini adalah gambarayata bagaimana perdagangan dan konflik berjalin kelindan membentuk kota ini. Anda bisa melihat aktivitas bongkar muat barang di tepi sungai yang ramai.
Jalan Kembang Jepun & Kya-Kya: Jejak Akulturasi Budaya dan Kuliner Malam
Jalan Kembang Jepun dulunya adalah jantung Pecinan Surabaya dan pusat perdagangan yang ramai. Kini, ia tetap mempertahankauansa otentiknya dengan deretan ruko kuno. Malam harinya, area ini hidup kembali sebagai Kya-Kya Kembang Jepun, sentra kuliner malam yang menawarkan berbagai hidangan khas Surabaya dan Tionghoa. Ini adalah perpaduan sempurna antara sejarah, budaya, dan cita rasa.
Pasar Pabean: Denyut Nadi Ekonomi Sejak Dulu
Pasar Pabean adalah pasar tradisional tertua dan terbesar di Surabaya. Berlokasi dekat Kalimas dan kawasan pecinan, pasar ini telah menjadi pusat distribusi barang dan bahan makanan sejak abad ke-18. Jelajahi gang-gangnya yang sempit, hirup aroma rempah-rempah, dan saksikan denyut kehidupan lokal yang tak banyak berubah. Ini adalah pengalaman otentik yang akan membawa Anda kembali ke masa lalu.
Persiapan Jelajah: Waktu Terbaik dan Cara Menuju Lokasi
Waktu Ideal: Pagi hari (sekitar pukul 07.00โ10.00) adalah waktu terbaik untuk memulai eksplorasi Kota Tua Surabaya agar terhindar dari teriknya matahari dan keramaian. Sore hari (pukul 15.00โ18.00) juga nyaman, terutama jika Anda ingin melanjutkan dengan wisata kuliner malam di Kembang Jepun.
Cara Menuju Lokasi: Surabaya adalah kota besar dengan aksesibilitas yang sangat baik. Anda bisa mencapai Surabaya melalui:
- Pesawat: Mendarat di Bandara Internasional Juanda (SUB). Dari bandara, Anda bisa naik taksi, bus Damri, atau sewa mobil di Surabaya langsung menuju pusat kota.
- Kereta Api: Stasiun Surabaya Gubeng dan Pasar Turi melayani rute dari berbagai kota besar di Jawa. Dari stasiun, taksi atau ojek daring sangat mudah ditemukan.
- Bus: Terminal Purabaya (Bungurasih) melayani rute antarprovinsi.
Menjelajahi Kota Tua Surabaya: Pilihan Transportasi di Lokasi
Begitu Anda tiba di pusat Kota Surabaya, ada beberapa opsi untuk menjelajahi area Kota Tua:
- Jalan Kaki: Ini adalah cara terbaik untuk merasakan setiap detail arsitektur, mencium aroma khas, dan menemukan sudut-sudut tersembunyi. Area Kota Tua cukup padat dan sebagian besar destinasi dapat dicapai dengan berjalan kaki.
- Bus Wisata House of Sampoerna (SHT): Jika Anda memulai dari House of Sampoerna, manfaatkan fasilitas bus wisata gratisnya. Bus ini akan membawa Anda mengelilingi beberapa titik ikonik di Kota Tua dengan pemandu.
- Becak atau Dokar: Untuk pengalaman yang lebih tradisional dan santai, Anda bisa mencoba becak atau dokar. Pastikan untuk menawar harga terlebih dahulu.
- Sewa Mobil: Bagi Anda yang menginginkan fleksibilitas penuh untuk berpindah antararea dan mengatur jadwal sendiri, rental mobil Surabaya adalah pilihan yang bijak. Dengan mobil pribadi, Anda bisa menjelajahi Kota Tua dan area lain di Surabaya tanpa terikat transportasi umum.
Tips Lapangan dari Jurnalis Travel Senior Balioh Trans
- Kenakan Sepatu Nyaman: Ini bukan kaleng-kaleng. Anda akan banyak berjalan kaki. Sepatu yang nyaman adalah kunci utama agar eksplorasi tidak terganggu.
- Bawa Air Minum dan Topi: Cuaca Surabaya bisa sangat terik. Tetap terhidrasi dan lindungi diri dari sinar matahari langsung.
- Manfaatkan Pemandu Lokal: Beberapa tempat seperti House of Sampoerna menyediakan pemandu. Jika Anda ingin pemahaman lebih mendalam tentang seluruh kawasan, pertimbangkan menyewa pemandu lokal. Mereka akan berbagi cerita dan fakta yang tak tercatat di buku panduan.
- Hidden Gem untuk Foto: Di balik Gedung Internatio, ada gang-gang sempit dengan arsitektur yang sangat otentik. Cocok untuk foto street photography. Juga, jangan lewatkan lorong-lorong di sekitar Pasar Pabean yang penuh karakter.
- Cicipi Kuliner Lokal di Spot Non-Turis: Alih-alih langsung ke tempat-tempat terkenal, coba mampir ke warung kecil yang ramai dikunjungi warga lokal. Rasakan rawon, lontong balap, atau rujak cingur otentik dengan harga bersahabat.
- Kunjungi Saat Hari Kerja: Beberapa museum mungkin lebih tenang saat hari kerja, memberikan pengalaman yang lebih intim. Namun, jika Anda ingin merasakan keramaian Kembang Jepun, datanglah pada akhir pekan malam.
- Pelajari Sedikit Sejarah: Sebelum datang, luangkan waktu untuk membaca sedikit tentang Pertempuran Surabaya dan latar belakang kolonialnya. Ini akan membuat pengalaman Anda lebih bermakna.
- Jaga Kebersihan dan Hormati Lingkungan: Kawasan ini adalah cagar budaya. Jangan membuang sampah sembarangan dan hargai bangunan serta masyarakat lokal.
- Waspada Terhadap Lingkungan: Seperti di setiap area kota tua laiya, tetaplah waspada terhadap barang bawaan Anda, terutama di area yang ramai.
Estimasi Waktu dan Itinerari (Contoh)
Untuk benar-benar merasakan Kota Tua Surabaya, alokasikan waktu setidaknya satu hari penuh. Berikut adalah contoh itinerari:
- Pagi (08.00-12.00):
- Mulai dari House of Sampoerna (1.5-2 jam) termasuk tur bus SHT.
- Lanjutkan ke Jembatan Merah dan area sekitarnya (1 jam).
- Siang (12.00-14.00):
- Makan siang di sekitar kawasan Pabean atau Kembang Jepun.
- Jelajahi Pasar Pabean (0.5-1 jam).
- Sore (14.00-18.00):
- Kunjungi Museum Bank Indonesia (1.5-2 jam).
- Dilanjutkan ke Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember (1.5-2 jam).
- Malam (18.00-selesai):
- Nikmati suasana malam dan kuliner di Kya-Kya Kembang Jepun.
Menemukan Harta Karun Lokal: Rekomendasi Kuliner Otentik
Jelajah sejarah tidak lengkap tanpa mencicipi kuliner khasnya. Surabaya adalah surganya makanan. Di sekitar Kota Tua, jangan lewatkan:
- Rawon Setan: Meski namanya “setan”, rasa gurih-pedasnya dijamin bikiagih. Cari yang dekat dengan area Jembatan Merah.
- Lontong Balap: Hidangan khas Surabaya dengan lontong, tauge, tahu goreng, dan lentho, disiram kuah petis yang khas.
- Tahu Campur: Perpaduan tahu goreng, lontong, mi, selada air, tauge, dan kikil sapi, disiram kuah petis yang pekat.
- Rujak Cingur: Salad buah dan sayur dengan irisan hidung sapi (cingur) yang kenyal, disiram saus petis yang kental dan pedas. Ini adalah ikon kuliner Surabaya.
- Es Krim Zangrandi: Untuk mengakhiri petualangan, nikmati es krim legendaris Zangrandi yang telah berdiri sejak 1930. Rasakauansa tempo dulu di tempat ini.
Jejak Perjuangan: Lebih dari Sekadar Bangunan Tua
Kota Tua Surabaya bukan sekadar koleksi bangunan kuno; ia adalah panggung tempat sejarah ditulis dengan darah dan air mata, sebuah simbol ketahanan dan semangat kepahlawanan. Dari kemegahan arsitektur kolonial yang pernah menjadi pusat ekonomi, hingga tembok-tembok yang menjadi saksi bisu pertempuran dahsyat, setiap sudutnya menyimpan pelajaran berharga.
Mengunjungi Kota Tua Surabaya adalah sebuah penghormatan. Ia mengingatkan kita akan pentingnya persatuan, keberanian, dan identitas bangsa yang terbentuk dari perpaduan beragam budaya. Ini adalah destinasi yang akan memperkaya wawasan Anda, bukan hanya tentang Surabaya, tetapi tentang Indonesia. Jadi, kapan Anda siap menginjakkan kaki di tanah pahlawan ini?
Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
1. Apa saja daya tarik utama Kota Tua Surabaya?
Daya tarik utamanya meliputi arsitektur kolonial yang indah, situs-situs bersejarah terkait perjuangan kemerdekaan (seperti Jembatan Merah dan Tugu Pahlawan), museum edukatif (House of Sampoerna, Museum Bank Indonesia), serta perpaduan budaya di kawasan Pecinan (Kembang Jepun) dan Arab (Ampel).
2. Berapa waktu yang ideal untuk menjelajahi Kota Tua Surabaya?
Minimal satu hari penuh (sekitar 8-10 jam) untuk dapat mengunjungi sebagian besar destinasi penting dengan santai. Jika hanya ingin melihat beberapa titik ikonik, setengah hari mungkin cukup.
3. Bagaimana cara terbaik untuk berkeliling di area Kota Tua Surabaya?
Cara terbaik adalah dengan berjalan kaki. Beberapa museum menawarkan tur bus gratis, dan becak atau dokar bisa menjadi pilihan untuk pengalaman yang lebih tradisional. Suroboyo Bus juga tersedia untuk rute tertentu yang melalui beberapa area bersejarah.
4. Apakah ada biaya masuk untuk destinasi di Kota Tua Surabaya?
Beberapa tempat seperti House of Sampoerna, Museum Sepuluh Nopember, dan Museum Bank Indonesia mengenakan biaya masuk yang relatif terjangkau. Namun, banyak area dan bangunan di luar museum dapat dinikmati secara gratis.
5. Apa saja kuliner khas yang wajib dicoba di sekitar Kota Tua Surabaya?
Jangan lewatkan Rawon Setan, Lontong Balap, Tahu Campur, Rujak Cingur, dan Es Krim Zangrandi. Banyak warung makan dan sentra kuliner di sekitar kawasan Kembang Jepun yang menawarkan hidangan lezat.





