Ambon. Nama ini mungkin segera terlintas di benak banyak orang sebagai “Kota Rempah,” atau setidaknya, gerbang menuju keindahan Maluku. Namun, Ambon lebih dari sekadar titik transit; ia adalah permata yang menyimpan lapisan sejarah panjang, kekayaan bahari yang memukau, dan budaya yang ramah. Jika Anda mencari petualangan yang memadukan jejak kolonial, pesona bawah laut yang tenang, dan cita rasa kuliner yang otentik, Ambon adalah destinasi yang wajib masuk daftar.

Sebagai jurnalis travel, saya jujur katakan bahwa Ambon sering kali terlewatkan. Banyak yang langsung menuju Raja Ampat atau Banda Neira. Namun, di balik keramaian itu, Ambon menawarkan pengalaman yang lebih intim, otentik, dan, tentu saja, lebih terjangkau. Dari benteng-benteng peninggalan VOC yang bisu hingga pantai-pantai berpasir putih yang belum tersentuh massa, Ambon adalah destinasi yang siap membuat Anda terpukau.
Daftar Isi
- Kenapa Harus ke Ambon? Jantung Sejarah dan Keindahan Bahari yang Menawan
- Akses Menuju Ambon: Gerbang Timur Indonesia
- Jelajah Ambon: Transportasi di Kota Rempah
- Destinasi Wajib & Hidden Gems di Ambon dan Sekitarnya
- Benteng Amsterdam: Saksi Bisu Kejayaan Rempah
- Pantai Natsepa: Surga Rujak dan Keindahan Laut
- Pulau Pombo Marine Park: Sejengkal dari Kota, Ribuan Keajaiban Bawah Laut
- Pantai Pintu Kota: Gerbang Alam yang Ikonik
- Museum Siwalima: Jendela Budaya Maluku
- Gong Perdamaian Dunia: Simbol Harmoni yang Menggema
- Desa Wisata Hila: Menjelajahi Sejarah di Kampung Tua
- Pantai Liang (Hunimua Beach): Pasir Putih Terbaik di Ambon
- Eksplorasi Kuliner Khas Ambon: Ledakan Rasa dari Timur
- Tips Berwisata di Ambon: Maksimalkan Petualangan Anda
- Local Secret: Rasakan Ambon Seperti Warga Lokal
- Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
Kenapa Harus ke Ambon? Jantung Sejarah dan Keindahan Bahari yang Menawan
Ambon bukan sekadar tempat, melainkan sebuah narasi. Ia adalah salah satu pulau yang paling dicari bangsa Eropa pada masa lalu karena rempah-rempah berharganya, terutama cengkih dan pala. Jejak-jejak perebutan kekuasaan, perdagangan, dan akulturasi budaya masih terasa kuat, terukir dalam benteng-benteng kuno, gereja-gereja bersejarah, dan masjid-masjid tua. Namun, Ambon jauh melampaui sejarahnya. Ia menawarkan keindahan bahari yang tak terbantahkan, dengan pantai-pantai berpasir putih, air laut sebening kristal, dan dunia bawah laut yang kaya biota.
Bagi penyelam dan snorkeler, Ambon adalah surga tersembunyi. Titik-titik penyelaman di sini mungkin tidak sepopuler Raja Ampat, tetapi kualitasnya tidak kalah memukau. Terumbu karang yang sehat, ikan-ikan berwarna-warni, hingga bangkai kapal peninggalan perang yang kini menjadi rumah bagi biota laut, semuanya ada di sini. Ditambah lagi, kehangatan dan keramahan penduduk lokal akan membuat pengalaman Anda di Ambon terasa lebih istimewa. Ini adalah tempat di mana Anda bisa menyelam ke dalam sejarah, lalu berenang di antara keindahan alam, dan akhirnya merasakan kehangatan sebuah komunitas.
Akses Menuju Ambon: Gerbang Timur Indonesia
Sebagai ibu kota Provinsi Maluku, Ambon memiliki aksesibilitas yang cukup baik, terutama melalui jalur udara.
- Melalui Udara:
Bandar Udara Internasional Pattimura (AMQ) adalah pintu gerbang utama ke Ambon. Tersedia penerbangan langsung dari kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Manado. Maskapai seperti Garuda Indonesia, Lion Air, Batik Air, Citilink, dan Sriwijaya Air melayani rute ini. Durasi penerbangan dari Jakarta sekitar 3-4 jam. Dari bandara, Anda bisa menggunakan taksi bandara atau DAMRI untuk menuju pusat kota Ambon, yang berjarak sekitar 35 kilometer. Biaya taksi bandara berkisar Rp150.000โRp200.000, sementara DAMRI lebih ekonomis dengan tarif sekitar Rp35.000โRp50.000.
- Melalui Laut:
Bagi Anda yang berjiwa petualang atau ingin merasakan perjalanan laut, kapal Pelni juga melayani rute ke Ambon dari berbagai pelabuhan di Indonesia. Perjalanan ini biasanya memakan waktu lebih lama, tetapi menawarkan pengalaman yang berbeda dan biaya yang lebih terjangkau. Pelabuhan Yos Sudarso adalah pelabuhan utama di Ambon.
Jelajah Ambon: Transportasi di Kota Rempah
Setibanya di Ambon, ada beberapa pilihan transportasi untuk menjelajahi kota dan sekitarnya. Pilihan terbaik tergantung pada kenyamanan, anggaran, dan fleksibilitas yang Anda inginkan.
- Angkot (Angkutan Kota): Ini adalah moda transportasi umum paling dominan di Ambon. Setiap angkot memiliki rute tertentu yang ditandai dengan warna atau tulisan di depaya. Tarifnya sangat terjangkau, biasanya sekitar Rp5.000 per orang untuk jarak dekat. Namun, Anda harus memahami rutenya atau sering bertanya kepada warga lokal. Pengalamaaik angkot di Ambon cukup unik dengan musik keras yang sering diputar di dalamnya.
- Ojek: Untuk rute yang lebih pendek atau area yang tidak terjangkau angkot, ojek adalah pilihan praktis. Harganya perlu negosiasi sebelum naik, tetapi umumnya sedikit lebih mahal dari angkot.
- Taksi: Taksi konvensional tersedia, terutama di sekitar bandara dan hotel besar. Tarifnya menggunakan argo atau kesepakatan.
- Rental Mobil: Ini adalah pilihan paling nyaman jika Anda bepergian bersama keluarga atau kelompok, atau jika Anda ingin menjelajahi Ambon dengan fleksibilitas penuh. Dengan sewa mobil di Ambon, Anda bisa membuat itinerary sendiri tanpa terikat jadwal transportasi umum. Banyak penyedia rental mobil Ambon yang menawarkan pilihan lepas kunci atau dengan sopir. Untuk rute ke pantai-pantai yang agak jauh atau daerah perbukitan, mobil pribadi adalah solusi terbaik. Pastikan Anda memesan jauh-jauh hari, terutama saat musim liburan.
Destinasi Wajib & Hidden Gems di Ambon dan Sekitarnya
Benteng Amsterdam: Saksi Bisu Kejayaan Rempah
Terletak di Desa Hila, Kecamatan Leihitu, sekitar 42 kilometer dari pusat Kota Ambon, Benteng Amsterdam adalah salah satu peninggalan paling signifikan dari masa kolonial Belanda. Dibangun pada tahun 1512 oleh Portugis dan kemudian direnovasi serta diperkuat oleh VOC, benteng ini adalah saksi bisu perebutan rempah-rempah yang sengit di Maluku. Bentuknya yang kokoh dengan arsitektur khas Eropa akan membawa Anda kembali ke masa lalu. Dari sini, Anda bisa melihat pemandangan laut yang indah.
Tips Lapangan: Benteng ini tidak selalu ramai, menjadikaya spot sempurna untuk berfoto tanpa gangguan. Datanglah saat pagi hari untuk pencahayaan terbaik dan cuaca yang lebih sejuk. Kombinasikan kunjungan Anda dengan menjelajahi Desa Hila yang bersejarah.
Pantai Natsepa: Surga Rujak dan Keindahan Laut
Pantai Natsepa adalah salah satu pantai paling populer di Ambon, terletak sekitar 18 kilometer dari pusat kota. Dikenal dengan pasir putihnya yang lembut, air laut yang tenang dan jernih, serta deretan pohon kelapa yang melambai. Namun, daya tarik utamanya adalah kuliner rujak khas Natsepa. Rujak ini berbeda, dengan bumbu kacang yang gurih dan sedikit pedas, disajikan dengan irisan buah-buahan segar dan taburan kacang tanah. Rasanya luar biasa!
Tips Lapangan: Kunjungi pada sore hari menjelang senja. Nikmati rujak sambil duduk di pinggir pantai, saksikan matahari terbenam yang memukau. Harga rujak bervariasi, tetapi sangat terjangkau. Hindari datang saat akhir pekan jika Anda tidak suka keramaian.
Pulau Pombo Marine Park: Sejengkal dari Kota, Ribuan Keajaiban Bawah Laut
Pulau Pombo adalah surga bagi para penyelam dan snorkeler, terletak tidak jauh dari Pulau Ambon. Untuk mencapainya, Anda bisa menyewa perahu dari Pantai Morella atau Desa Waai. Perjalanan perahu biasanya memakan waktu sekitar 15-30 menit. Pulau tak berpenghuni ini adalah bagian dari taman laut nasional, dengan perairan yang jernih, terumbu karang yang sehat, dan beragam biota laut.
Tips Lapangan: Sewa perahu biasanya mencakup biaya antar-jemput dan waktu tunggu di pulau. Bawa perlengkapan snorkeling atau sewa dari penyedia tur. Jangan lupa membawa bekal makanan dan minuman, karena tidak ada fasilitas di pulau ini. Jaga kebersihan lingkungan dengan tidak meninggalkan sampah.
Pantai Pintu Kota: Gerbang Alam yang Ikonik
Sekitar 40 menit berkendara dari pusat kota, Pantai Pintu Kota adalah salah satu ikon Ambon. Daya tarik utamanya adalah formasi batuan karang raksasa yang menjorok ke laut, membentuk seperti gerbang. Di bagian atas “gerbang” ini, ada tebing karang yang menjulang tinggi, menawarkan pemandangan Samudra Pasifik yang tak terbatas. Air di bawah gerbang ini sangat jernih dan biru pekat.
Tips Lapangan: Datanglah saat sore hari untuk menikmati pemandangan matahari terbenam yang spektakuler, di mana siluet gerbang batu akan terlihat dramatis. Berhati-hatilah saat berjalan di bebatuan karang yang licin. Ada tangga menuju puncak tebing, tetapi cukup curam dan menantang.
Museum Siwalima: Jendela Budaya Maluku
Untuk memahami lebih dalam tentang budaya dan sejarah Maluku, kunjungi Museum Siwalima. Terletak di kawasan Pantai Amahusu, sekitar 5 kilometer dari pusat kota, museum ini memiliki dua bangunan utama: satu memamerkan koleksi adat dan budaya Maluku (rumah adat, pakaian tradisional, alat musik, dll.), dan yang laiya menampilkan koleksi maritim berupa biota laut serta peninggalan arkeologi bawah laut.
Tips Lapangan: Alokasikan waktu setidaknya 1-2 jam untuk menjelajahi museum ini. Pemandu museum sering kali tersedia untuk memberikan penjelasan yang lebih mendalam. Ini adalah tempat yang bagus untuk dikunjungi pada hari yang terlalu panas atau hujan.
Gong Perdamaian Dunia: Simbol Harmoni yang Menggema
Gong Perdamaian Dunia di Ambon adalah monumen simbolis yang didirikan sebagai pengingat akan pentingnya perdamaian dan kerukunan antarumat beragama, terutama setelah konflik sosial yang pernah melanda Ambon. Di sekitar gong terdapat prasasti yang bertuliskaama-nama negara dan konflik yang pernah terjadi di dunia, serta nilai-nilai perdamaian.
Tips Lapangan: Monumen ini terletak di pusat kota, mudah diakses. Ini adalah tempat yang cocok untuk refleksi singkat dan berfoto. Kunjungi saat pagi atau sore hari untuk menghindari teriknya matahari.
Desa Wisata Hila: Menjelajahi Sejarah di Kampung Tua
Berdekatan dengan Benteng Amsterdam, Desa Hila adalah salah satu desa tertua di Pulau Ambon. Desa ini memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan rempah dan merupakan tempat di mana berbagai budaya berinteraksi. Anda dapat melihat rumah-rumah adat yang masih dipertahankan, masjid tua, dan gereja bersejarah yang berdiri berdampingan. Gereja Tua Immanuel dan Masjid Wapauwe adalah contoh arsitektur peninggalan masa lampau yang masih lestari.
Tips Lapangan: Susuri jalanan desa dengan berjalan kaki. Jangan ragu berinteraksi dengan penduduk lokal yang ramah. Kunjungi kedua tempat ibadah tersebut dengan tetap menghormati aturan yang berlaku. Ini adalah pengalaman otentik tentang toleransi dan sejarah.
Pantai Liang (Hunimua Beach): Pasir Putih Terbaik di Ambon
Pantai Liang, juga dikenal sebagai Hunimua Beach, terletak sekitar 40 kilometer di timur laut Kota Ambon. Pantai ini pernah dinobatkan sebagai salah satu pantai terbersih di Indonesia. Dengan hamparan pasir putih yang sangat luas, air laut yang biru jernih, dan ombak yang tenang, Pantai Liang sangat cocok untuk berenang, bersantai, atau piknik bersama keluarga. Pohon-pohon rindang di sepanjang pantai menawarkan keteduhan yang nyaman.
Tips Lapangan: Bawa perlengkapan piknik sendiri daikmati suasana pantai yang masih alami. Ada beberapa warung makan sederhana yang menjual kelapa muda dan makanan ringan. Pantai ini ideal untuk menghabiskan setengah hari dengan santai.
Eksplorasi Kuliner Khas Ambon: Ledakan Rasa dari Timur
Perjalanan ke Ambon tidak akan lengkap tanpa mencicipi kuliner khasnya yang kaya rasa. Masakan Maluku terkenal dengan bumbu-bumbu rempah yang kuat dan hidangan laut segar.
- Papeda dan Ikan Kuah Kuning: Ini adalah hidangan wajib. Papeda adalah bubur sagu kental yang dimakan bersama ikan kuah kuning, sup ikan dengan bumbu kunyit, sereh, dan rempah laiya yang menyegarkan. Rasanya asam, gurih, dan sedikit pedas. Cara menyantap papeda adalah dengan menyeruputnya, bukan mengunyah.
- Gohu Ikan: Mirip dengan ceviche, gohu ikan adalah salad ikan mentah yang direndam dalam perasan jeruk nipis atau cuka, dicampur dengan irisan bawang merah, cabai, dan daun kemangi. Rasanya segar dan asam pedas. Umumnya menggunakan ikan tuna atau cakalang.
- Kohu-kohu: Ini adalah salad sayuran khas Maluku, mirip dengan urap di Jawa. Terdiri dari berbagai sayuran rebus (kacang panjang, tauge), irisan mentimun, dan daun kemangi, yang dicampur dengan parutan kelapa berbumbu, irisan ikan cakalang fufu (asap), serta perasan jeruk dan cabai.
- Ikan Bakar Sambal Colo-colo: Ikan segar yang dibakar sempurna, disajikan dengan sambal colo-colo. Sambal ini terbuat dari irisan cabai rawit, bawang merah, tomat hijau, dan daun kemangi, disiram dengan minyak panas dan perasan jeruk limau. Perpaduan rasa pedas, asam, dan segar sangat cocok untuk hidangan laut.
- Rujak Natsepa: Sudah disebutkan di atas, tetapi penting untuk diingat sebagai kuliner ikonik Ambon. Bumbu kacangnya yang khas membedakaya dari rujak di daerah lain.
Tips Lapangan: Cari warung makan lokal di pinggir jalan atau di Pasar Mardika untuk pengalaman kuliner yang paling otentik dan harga terjangkau. Jangan takut mencoba makanan pedas!
Tips Berwisata di Ambon: Maksimalkan Petualangan Anda
- Waktu Terbaik: Musim kemarau (sekitar Mei hingga Oktober) adalah waktu terbaik untuk mengunjungi Ambon, karena cuaca cerah akan memungkinkan Anda menikmati aktivitas bahari dan menjelajahi pantai tanpa kendala. Hindari musim hujan (November hingga April) karena beberapa aktivitas luar ruangan mungkin terganggu.
- Etika dan Adat: Masyarakat Ambon umumnya ramah dan terbuka. Hormati adat istiadat setempat dan berbusanalah sopan saat mengunjungi tempat ibadah atau desa tradisional. Belajar beberapa frasa lokal seperti “apa kabar?” (bagaimana kabar?) atau “terima kasih” dalam bahasa Melayu Ambon akan sangat dihargai.
- Keamanan: Ambon relatif aman untuk wisatawan. Namun, seperti di destinasi mana pun, tetap waspada terhadap barang bawaan Anda dan hindari bepergian sendirian di tempat yang terlalu sepi saat malam hari.
- Konektivitas: Sinyal telepon seluler cukup baik di pusat kota dan sebagian besar area wisata. Namun, di daerah terpencil atau pulau-pulau kecil, sinyal mungkin terbatas.
- Membawa Uang Tunai: Meskipun ATM tersedia di pusat kota, sebaiknya selalu siapkan uang tunai, terutama jika Anda berencana mengunjungi desa-desa atau warung makan kecil di pinggir pantai.
Local Secret: Rasakan Ambon Seperti Warga Lokal
Jika Anda ingin merasakan Ambon seperti warga lokal, pergilah ke Pasar Mardika saat pagi hari. Pasar ini adalah jantung kehidupan Ambon, tempat para nelayan membawa hasil tangkapan segar dan para petani dari pegunungan menjual hasil bumi mereka. Selain berinteraksi dengan pedagang, Anda akan menemukan aneka jajanan pasar tradisional yang mungkin tidak ada di tempat lain, seperti kasbi (singkong) goreng dengan dabu-dabu, atau kue-kue sagu khas. Ini adalah pengalaman visual, penciuman, dan rasa yang otentik. Jangan lupa tawar-menawar dengan sopan.
Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
- Apakah Ambon aman untuk wisatawan?
Ya, Ambon umumnya aman bagi wisatawan. Masyarakat lokal ramah, tetapi tetap disarankan untuk selalu waspada, terutama saat malam hari di tempat yang sepi.
- Bagaimana cara terbaik untuk menjelajahi pulau-pulau kecil di sekitar Ambon?
Cara terbaik adalah dengan menyewa perahu motor dari dermaga-dermaga lokal (misalnya Pantai Morella untuk ke Pulau Pombo) atau mengikuti tur yang ditawarkan oleh penyedia wisata setempat.
- Apa makanan khas Ambon yang wajib dicoba selain papeda?
Selain papeda, Anda harus mencoba gohu ikan (salad ikan mentah), kohu-kohu (salad sayuran), dan tentu saja, ikan bakar dengan sambal colo-colo yang khas.
- Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi Ambon agar bisa menikmati pantai dan laut?
Waktu terbaik adalah selama musim kemarau, yaitu antara bulan Mei hingga Oktober, ketika cuaca cerah dan ombak lebih tenang untuk aktivitas bahari.
- Apakah saya perlu menyewa mobil di Ambon?
Jika Anda berencana menjelajahi berbagai destinasi yang agak jauh dari pusat kota dengan fleksibilitas tinggi, menyewa mobil sangat direkomendasikan. Ini memberikan kenyamanan lebih, terutama jika Anda bepergian bersama keluarga.





