Banten Lama. Mendengar namanya saja sudah terbayang pesona masa lalu yang kental. Ini bukan sekadar nama tempat, melainkan kapsul waktu yang mengantarkan kita menyelami kejayaan Kesultanan Banten, salah satu kekuatan maritim dan perdagangan terbesar di Nusantara pada abad ke-16 hingga ke-18. Berlokasi di Kota Serang, Banten, area ini adalah harta karun bagi siapa pun yang mendamba petualangan sejarah, edukasi, dan sentuhan spiritual. Lupakan hiruk-pikuk modern, di sini Anda akan diajak napak tilas di antara reruntuhan keraton, menara masjid tua, dan sisa-sisa pelabuhan yang pernah ramai disinggahi kapal-kapal dari berbagai penjuru dunia. Siapkan diri, karena Banten Lama adalah museum terbuka yang jujur menceritakan pasang surut sebuah peradaban.

Sebagai jurnalis travel, saya selalu mencari tempat yang menawarkan lebih dari sekadar pemandangan, tetapi juga cerita. Banten Lama punya segalanya. Aroma dupa berpadu dengan wangi rempah, jejak arsitektur kuno bersanding dengan modernitas, serta perpaduan budaya yang kaya. Ini adalah destinasi wajib bagi penjelajah sejati yang ingin merasakan denyut nadi sejarah Indonesia secara langsung.
Daftar Isi
- Kenapa Harus ke Banten Lama?
- Destinasi Wajib di Banten Lama
- Hidden Gems & Tips Jurnalis
- Cara Menuju Banten Lama
- Tips Lapangan untuk Petualang Sejati
- Estimasi Biaya dan Waktu Kunjungan
- Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
Kenapa Harus ke Banten Lama?
Bukan hanya para peziarah, Banten Lama menawarkan spektrum pengalaman yang luas untuk berbagai jenis pelancong. Berikut alasaya:
- Pusat Sejarah Maritim dan Perdagangan: Banten adalah salah satu bandar niaga tersibuk di Asia Tenggara. Di sini, Anda bisa melihat langsung sisa-sisa kejayaan perdagangan rempah dan jalur sutra maritim. Bayangkan kapal-kapal dari Tiongkok, Arab, Eropa, dan India bersandar di Pelabuhan Karangantu yang kini tenang.
- Akulturasi Budaya yang Kaya: Kesultanan Banten adalah melting pot budaya. Anda akan menemukan arsitektur Jawa, Islam, Tionghoa, dan Eropa yang menyatu harmonis dalam satu area. Masjid Agung Banten dengan menara khas Tionghoanya, Vihara Avalokitesvara dengauansa sakralnya, dan Benteng Speelwijk peninggalan Belanda, semuanya bercerita tentang toleransi dan interaksi yang mendalam.
- Destinasi Edukasi Terbuka: Bagi keluarga atau pelajar, Banten Lama adalah buku sejarah yang hidup. Anak-anak bisa belajar langsung tentang sejarah Islam di Nusantara, sistem pemerintahan kesultanan, hingga arsitektur kuno.
- Sentuhan Spiritual: Banyak makam ulama dan sultan yang disakralkan di area ini, menjadikaya tujuan ziarah penting. Anda akan merasakan atmosfer yang khusyuk dan penuh penghormatan.
- Fotografi yang Estetik: Dari menara tinggi, reruntuhan berusia ratusan tahun, hingga pasar tradisional yang ramai, setiap sudut Banten Lama adalah kanvas foto yang menawan. Cocok untuk Anda yang hobi fotografi arsitektur atau jurnalistik.
Destinasi Wajib di Banten Lama
Untuk memaksimalkan kunjungan Anda, ada beberapa titik utama yang wajib dijelajahi:
Masjid Agung Banten
Ini adalah ikon utama Banten Lama. Dibangun pada masa Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), arsitekturnya memadukan gaya Jawa dan Tionghoa. Keunikan paling mencolok adalah menaranya yang berbentuk mercusuar, dirancang oleh arsitek Tionghoa bernama Cek-ban-cut. Menara ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat azan, tetapi juga sebagai menara pengawas. Di kompleks masjid ini, terdapat pula makam para Sultan Banten dan keluarganya, termasuk makam Sultan Maulana Hasanuddin. Saat berkunjung, perhatikan atap tumpang lima yang khas arsitektur Jawa, menunjukkan pengaruh Hindu-Buddha yang kemudian diakulturasikan dengan Islam. Suasana di sini selalu ramai dengan peziarah dari berbagai daerah, memberikauansa spiritual yang kuat.
Vihara Avalokitesvara
Hanya sepelemparan batu dari Masjid Agung, berdiri megah Vihara Avalokitesvara, vihara tertua di Provinsi Banten yang didirikan sekitar tahun 1676. Keberadaan vihara ini adalah bukti nyata toleransi beragama dan akulturasi budaya yang telah berlangsung ratusan tahun di Banten. Arsitektur khas Tiongkok kuno dengan ukiraaga, patung dewa-dewi, dan ornamen warna-warni akan langsung menyambut Anda. Di dalamnya terdapat beberapa altar pemujaan. Ini adalah tempat yang menarik untuk mengamati perpaduan budaya dan sejarah Banten yang multikultural.
Benteng Speelwijk
Peninggalan VOC Belanda ini dibangun pada tahun 1682 dan merupakan salah satu benteng pertahanan terkuat pada masanya. Nama “Speelwijk” diambil dari nama Gubernur Jenderal VOC saat itu, Cornelis Speelman. Meskipun kini hanya tersisa reruntuhan tembok batu dan beberapa struktur, benteng ini dulunya sangat strategis untuk mengawasi Selat Sunda dan melindungi kepentingan dagang VOC. Anda bisa berjalan-jalan di sekitar area benteng, membayangkan bagaimana kehidupan militer di masa kolonial. Dari atas benteng, pemandangan ke arah laut dan sisa-sisa pelabuhan lama masih bisa terlihat, memberikan perspektif tentang posisi Banten di peta perdagangan dunia.
Keraton Kaibon
Kaibon, dari kata ‘keibuan’, adalah istana tempat tinggal Ratu Aisyah, ibunda Sultan Syafiudin. Dibangun pada tahun 1815, keraton ini dihancurkan Belanda tiga tahun kemudian. Kini, yang tersisa hanyalah fondasi dan sebagian tembok batu bata yang kokoh, namun masih cukup untuk membayangkan kemegahan istana ini dulunya. Anda akan melihat sisa-sisa gerbang utama, tembok tinggi, dan beberapa sumur kuno. Keraton Kaibon menawarkan atmosfer yang tenang dan melankolis, cocok untuk merenung dan berfoto dengan latar belakang reruntuhan yang artistik.
Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang sejarah Banten Lama, museum ini adalah tempat yang tepat. Berlokasi tidak jauh dari Masjid Agung, museum ini menyimpan berbagai artefak yang ditemukan di situs Banten Lama, mulai dari keramik Tiongkok, mata uang kuno, perhiasan, senjata, hingga peninggalan arkeologi laiya. Melalui koleksi-koleksi ini, Anda bisa memahami lebih dalam tentang kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Banten dari masa Kesultanan hingga era kolonial. Ada juga diorama yang menggambarkan aktivitas pelabuhan Banten di masa kejayaaya.
Pelabuhan Karangantu
Sebelum Cimanuk mendangkal, Karangantu adalah pelabuhan internasional yang ramai. Kini, pelabuhan ini lebih sederhana, digunakan oleh nelayan lokal dan kapal-kapal kecil. Meskipun begitu, dengan sedikit imajinasi, Anda bisa merasakauansa historisnya. Bayangkan pedagang rempah, penjelajah Eropa, dan pelaut dari berbagai bangsa berinteraksi di tempat ini. Pemandangan perahu-perahu nelayan yang berjejer dan aktivitas pelelangan ikan di pagi hari memberikan sentuhan lokal yang otentik. Ini adalah tempat yang bagus untuk mengakhiri tur sejarah Anda, sembari menikmati angin laut dan membayangkan kejayaan masa lalu.
Hidden Gems & Tips Jurnalis
Agar kunjungan Anda lebih berkesan, ini beberapa tips dari saya:
- Menyusuri Kanal Lama: Di beberapa area Banten Lama, Anda akan menemukan sisa-sisa kanal kuno yang dulunya merupakan jalur transportasi air penting. Menyusuri kanal-kanal ini memberikan perspektif berbeda tentang tata kota Banten di masa lampau. Banyak bagian yang kini tertutup, tetapi ada beberapa spot yang masih bisa dikenali, terutama di dekat Pelabuhan Karangantu. Ini adalah spot foto yang unik dan jarang disentuh turis biasa.
- Warung Nasi Uduk dan Rabeg Lokal: Jangan pulang sebelum mencicipi kuliner khas Banten Lama. Cari warung makan sederhana di sekitar area yang menjual Nasi Uduk Banten dan Rabeg. Rabeg adalah olahan daging kambing atau sapi dengan bumbu rempah yang kuat, mirip semur namun lebih pekat dan gurih, konon resepnya merupakan kesukaan para sultan. Ada juga Sate Bandeng yang merupakan olahan ikan bandeng tanpa duri, sangat lezat. Tanya penduduk lokal untuk rekomendasi warung terbaik, biasanya ada warung legendaris yang sudah turun-temurun.
- Waktu Terbaik untuk Foto: Datanglah saat “golden hour” (pagi hari sesaat setelah matahari terbit atau sore hari menjelang matahari terbenam). Cahaya lembut akan membuat reruntuhan dan bangunan kuno terlihat lebih dramatis dan estetik. Menara Masjid Agung Banten dan Benteng Speelwijk akan terlihat sangat memukau.
- Interaksi dengan Pedagang Lokal: Jangan ragu berinteraksi dengan pedagang di pasar atau sekitar situs. Mereka seringkali punya cerita menarik atau tips lokal yang bisa memperkaya pengalaman Anda. Beli suvenir khas seperti batik Banten atau golok Ciomas sebagai kenang-kenangan.
Cara Menuju Banten Lama
Banten Lama berlokasi strategis di Kota Serang, Provinsi Banten, sehingga mudah diakses dari Jakarta maupun kota-kota sekitarnya.
Dari Jakarta/Tangerang:
- Mobil Pribadi/Sewa: Ini adalah opsi paling nyaman dan fleksibel. Anda bisa menggunakan Jalan Tol Jakarta-Merak, keluar di Gerbang Tol Serang Timur atau Serang Barat. Dari gerbang tol, ikuti petunjuk arah menuju Kota Serang dan selanjutnya ke Banten Lama. Waktu tempuh sekitar 1,5 hingga 2 jam tergantung kondisi lalu lintas. Jika Anda tidak membawa kendaraan pribadi, Anda bisa mempertimbangkan sewa mobil di Serang untuk kemudahan menjelajahi area ini dan sekitarnya.
- Kereta Api: Dari Stasiun Tanah Abang (Jakarta), Anda bisa naik kereta api lokal tujuan Rangkasbitung, lalu berganti kereta tujuan Merak. Turun di Stasiun Serang. Dari Stasiun Serang, Anda bisa melanjutkan perjalanan dengan angkutan kota (angkot) berwarna merah jurusan Banten Lama atau menggunakan ojek online.
- Bus: Dari Terminal Kalideres (Jakarta Barat) atau Terminal Poris Plawad (Tangerang), naik bus tujuan Serang. Turun di Terminal Pakupatan Serang. Dari terminal, Anda bisa melanjutkan dengan angkot atau ojek online menuju Banten Lama.
Dari Bandung:
- Mobil Pribadi/Sewa: Anda bisa melalui Jalan Tol Cipularang-Cikampek, lalu Tol Jakarta-Merak. Keluar di Gerbang Tol Serang Timur/Barat. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 3-4 jam. Untuk fleksibilitas lebih, rental mobil Serang adalah pilihan tepat agar perjalanan Anda lebih nyaman dan efisien.
- Bus: Dari Terminal Leuwi Panjang (Bandung), naik bus tujuan Serang. Turun di Terminal Pakupatan Serang, lalu lanjut dengan angkot atau ojek online.
Transportasi di Banten Lama: Area Banten Lama cukup luas, tetapi sebagian besar situs-situs utamanya relatif berdekatan dan bisa dijelajahi dengan berjalan kaki. Untuk jarak yang lebih jauh antar situs atau jika ingin menghemat energi, ojek adalah pilihan yang praktis dan murah.
Tips Lapangan untuk Petualang Sejati
- Pakaian dan Perlengkapan: Kenakan pakaian yang sopan dayaman, terutama jika Anda berencana memasuki area masjid atau makam. Celana panjang atau rok di bawah lutut serta atasan yang menutupi bahu adalah pilihan terbaik. Gunakan alas kaki yang nyaman karena Anda akan banyak berjalan kaki. Topi, kacamata hitam, dan tabir surya sangat disarankan karena area ini cukup terbuka dan terik di siang hari.
- Waktu Kunjungan Terbaik: Datanglah pada pagi hari (sekitar pukul 07.00 – 10.00) atau sore hari (pukul 15.00 – 17.00). Selain cuaca lebih nyaman, Anda juga bisa menghindari keramaian, terutama di Masjid Agung Banten. Pagi hari juga memberikan cahaya yang indah untuk fotografi.
- Hargai Adat dan Tradisi: Banten Lama adalah situs sejarah sekaligus tempat ziarah dan ibadah. Hormati setiap ritual atau kegiatan keagamaan yang sedang berlangsung. Jaga ketenangan dan kebersihan.
- Sedia Uang Tunai: Meskipun beberapa tempat sudah menerima pembayaran digital, sebagian besar pedagang dan tukang ojek masih mengandalkan uang tunai.
- Waspada “Pemandu” Tidak Resmi: Saat tiba di lokasi, kadang ada oknum yang menawarkan diri sebagai pemandu tanpa izin resmi. Jika Anda merasa membutuhkan pemandu, tanyakan kepada pengelola atau staf resmi di area museum. Selalu sepakati harga di awal untuk menghindari kesalahpahaman.
- Jaga Kebersihan: Bawa kantong sampah pribadi jika perlu dan buang sampah pada tempatnya. Kita semua bertanggung jawab menjaga keindahan situs sejarah ini.
- Pelajari Sedikit Sejarah: Sebelum datang, baca sedikit tentang sejarah Kesultanan Banten. Ini akan membuat kunjungan Anda lebih bermakna dan Anda bisa lebih menghargai setiap detail yang Anda lihat. Untuk informasi lebih lanjut mengenai sejarahnya, Anda bisa melihat halaman Kesultanan Banten di Wikipedia.
Estimasi Biaya dan Waktu Kunjungan
- Biaya Masuk: Sebagian besar situs di Banten Lama tidak memungut biaya masuk resmi, kecuali beberapa area di museum atau jika ada acara khusus. Namun, biasanya ada kotak sumbangan sukarela. Biaya parkir kendaraan juga relatif terjangkau, sekitar Rp5.000 – Rp10.000 untuk mobil.
- Pemandu Lokal: Jika Anda menyewa pemandu, siapkan sekitar Rp50.000 – Rp100.000 (harga bisa dinegosiasikan tergantung durasi dan jangkauan).
- Makan dan Minum: Untuk kuliner lokal, siapkan sekitar Rp20.000 – Rp50.000 per orang sekali makan.
- Waktu Kunjungan: Untuk benar-benar menjelajahi dan menikmati Banten Lama, alokasikan minimal 4-5 jam. Jika Anda ingin bersantai, berfoto, dan menyelami setiap detail, sehari penuh akan lebih ideal.
Banten Lama adalah salah satu permata sejarah Indonesia yang tak boleh dilewatkan. Ini adalah tempat di mana Anda tidak hanya melihat reruntuhan, tetapi merasakan denyut nadi sebuah peradaban besar yang pernah berkuasa. Jujurly, tempat ini akan memberikan pengalaman yang melampaui ekspektasi Anda, sebuah petualangan yang tak terlupakan di jantung sejarah Nusantara.
Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
- Apakah Banten Lama aman untuk dikunjungi sendirian?
Ya, Banten Lama cukup aman untuk dikunjungi sendirian. Namun, seperti halnya di tempat wisata mana pun, tetap waspada terhadap barang bawaan dan hindari area yang terlalu sepi, terutama saat senja.
- Apakah ada penginapan di dekat Banten Lama?
Di sekitar area Banten Lama tidak banyak penginapan. Namun, Anda bisa menemukan banyak pilihan hotel dan penginapan di pusat Kota Serang, yang berjarak sekitar 15-20 menit perjalanan dari Banten Lama.
- Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi Banten Lama agar tidak terlalu ramai?
Waktu terbaik adalah di luar musim liburan panjang, dan saat hari kerja. Datanglah pada pagi hari antara pukul 07.00-10.00 WIB atau sore hari setelah pukul 15.00 WIB untuk menghindari keramaian puncak dan cuaca yang terik.
- Apakah saya perlu menyewa pemandu lokal di Banten Lama?
Tidak wajib, tetapi sangat disarankan. Pemandu lokal bisa memberikan konteks sejarah dan cerita menarik yang mungkin tidak Anda dapatkan dari papan informasi, sehingga kunjungan Anda akan lebih mendalam. Selalu tanyakan kredibilitas dan sepakati harga di awal.
- Bisakah saya naik ke Menara Masjid Agung Banten?
Biasanya, pengunjung umum tidak diperbolehkaaik ke puncak menara karena alasan keamanan dan konservasi. Anda bisa menikmati keindahan menara dari bawah dan dari kompleks masjid.





