Indonesia, sebuah negara kepulauan yang kaya akan warisan budaya dan sejarah, menyimpan berbagai keajaiban yang tak lekang oleh waktu. Salah satu permata yang paling bersinar adalah Candi Prambanan, sebuah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang terletak di perbatasan antara Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dengan arsitektur yang megah, ukiran yang detail, dan kisah-kisah legenda yang mengiringinya, Prambanan bukan hanya sekadar situs bersejarah, melainkan sebuah jendela menuju masa lalu yang gemilang, sebuah bukti kehebatan peradaban kuno Nusantara.

Sebagai seorang pelancong yang haus akan pengalaman dan pengetahuan, mengunjungi Candi Prambanan adalah sebuah keharusan. Artikel ini akan menjadi panduan lengkap Anda untuk menjelajahi setiap sudut keagungan Prambanan, mulai dari sejarahnya yang misterius, arsitekturnya yang memukau, hingga tips-tips praktis untuk memaksimalkan kunjungan Anda. Mari kita mulai petualangan spiritual dan historis di mahakarya Hindu ini!
Sejarah dan Legenda Candi Prambanan: Kisah Cinta yang Terukir di Batu
Candi Prambanan, atau yang juga dikenal sebagai Candi Roro Jonggrang, adalah sebuah kompleks candi Hindu yang didedikasikan untuk Trimurti, tiga dewa utama dalam kepercayaan Hindu: Brahma (Sang Pencipta), Wisnu (Sang Pemelihara), dan Siwa (Sang Pelebur). Dibangun pada abad ke-9 Masehi oleh Raja Rakai Pikatan dari Dinasti Mataram Kuno, atau mungkin oleh Raja Balitung Maha Sambu, pembangunan candi ini merupakan respons terhadap pembangunan Candi Borobudur yang merupakan candi Buddha, menunjukkan adanya persaingan antara dua kerajaan besar di Jawa saat itu.
Prambanan menjadi pusat kegiatan keagamaan Hindu selama beberapa abad, namun kemudian ditinggalkan dan terlantar akibat letusan Gunung Merapi yang hebat atau pergeseran pusat kerajaan ke Jawa Timur. Candi ini terkubur abu vulkanik dan puing-puing selama ratusan tahun, sebelum akhirnya ditemukan kembali dan direstorasi secara bertahap sejak awal abad ke-20. Pada tahun 1991, UNESCO mengakui Candi Prambanan sebagai Situs Warisan Dunia, mengukuhkan statusnya sebagai salah satu situs arkeologi terpenting di dunia.
Legenda Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso
Selain sejarah otentik yang terekam dalam prasasti, Prambanan juga dihiasi oleh legenda rakyat yang tak kalah menarik, yaitu kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Alkisah, seorang pangeran sakti bernama Bandung Bondowoso jatuh cinta pada putri cantik bernama Roro Jonggrang. Roro Jonggrang, yang tidak mencintai Bandung Bondowoso karena ia telah membunuh ayahnya, mengajukan syarat yang mustahil untuk menerima lamaraya: Bandung Bondowoso harus membangun seribu candi dalam satu malam.
Dengan kesaktiaya, Bandung Bondowoso hampir berhasil menyelesaikan tugas tersebut. Roro Jonggrang yang panik, kemudian meminta para dayang untuk menumbuk padi dan membakar jerami di timur, meniru suasana fajar. Ayam jantan pun berkokok, dan para jin yang membantu Bandung Bondowoso bubar karena mengira pagi telah tiba. Marah karena ditipu, Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca candi yang ke-seribu. Arca Roro Jonggrang ini dipercaya sebagai arca Dewi Durga yang berada di dalam Candi Siwa, candi utama di kompleks Prambanan.
Arsitektur Megah dan Filosofi Mendalam Candi Prambanan
Kompleks Candi Prambanan dibangun dengan sangat teliti, mencerminkan kosmologi Hindu dan filosofi spiritual yang mendalam. Tata letak candi mengikuti pola mandala, sebuah diagram geometris yang melambangkan alam semesta. Secara keseluruhan, kompleks ini terdiri dari 240 candi besar dan kecil, meskipun banyak di antaranya kini tinggal puing-puing. Bagian paling menarik dan terawat adalah zona pusat yang berisi candi-candi utama.
Struktur Umum Kompleks Candi
Pelataran Luar (Jaba): Area terbuka yang mengelilingi seluruh kompleks. Dulu mungkin terdapat permukiman pendeta atau bangunan pendukung laiya.
Pelataran Tengah (Tengah): Area ini memiliki empat deret candi perwara (pengawal) yang mengelilingi pelataran inti. Masing-masing deret terdiri dari banyak candi kecil yang berjumlah total 224 candi. Sebagian besar candi perwara ini masih berupa tumpukan batu yang belum direkonstruksi.
Pelataran Dalam (Njeron): Ini adalah area paling sakral dan menjadi jantung kompleks Prambanan. Di sinilah berdiri delapan candi utama yang megah.
Candi-candi Utama di Pelataran Dalam
Pelataran dalam didominasi oleh tiga candi Trimurti yang menjulang tinggi, diapit oleh tiga candi Wahana (kendaraan dewa) di depaya, serta dua Candi Apit dan delapan Candi Kelir dan Patok.
1. Candi Siwa (Candi Roro Jonggrang)
Ini adalah candi terbesar dan tertinggi di Prambanan, mencapai ketinggian 47 meter. Candi ini didedikasikan untuk Dewa Siwa, Sang Pelebur. Di dalam candi ini terdapat empat ruangan:
Ruangan Utama: Menampung arca Siwa Mahadewa setinggi 3 meter yang gagah.
Ruangan Utara: Terdapat arca Dewi Durga Mahisasuramardini, yang dalam legenda dipercaya sebagai arca Roro Jonggrang.
Ruangan Barat: Terdapat arca Ganesha, putra Siwa.
Ruangan Selatan: Terdapat arca Agastya, seorang resi Hindu.
Dinding-dinding luar Candi Siwa dihiasi dengan relief kisah Ramayana, yang mengalir searah jarum jam (pradakshina). Relief ini sangat detail dan menggambarkan perjalanan Rama untuk menyelamatkan Sinta dari Rahwana.
2. Candi Brahma
Terletak di sebelah selatan Candi Siwa, Candi Brahma didedikasikan untuk Dewa Brahma, Sang Pencipta. Di dalamnya terdapat arca Brahma berkepala empat. Relief Ramayana juga berlanjut di candi ini, melanjutkan cerita dari Candi Siwa.
3. Candi Wisnu
Terletak di sebelah utara Candi Siwa, Candi Wisnu didedikasikan untuk Dewa Wisnu, Sang Pemelihara. Di dalamnya terdapat arca Wisnu. Relief di dinding Candi Wisnu menggambarkan kisah Kresnayana, kisah Dewa Krisna.
4. Candi Wahana
Di depan masing-masing candi Trimurti berdiri candi wahana, yaitu kendaraan para dewa:
Candi Nandi: Berada di depan Candi Siwa, didedikasikan untuk lembu Nandi, kendaraan Dewa Siwa.
Candi Garuda: Berada di depan Candi Wisnu, didedikasikan untuk burung Garuda, kendaraan Dewa Wisnu.
Candi Angsa: Berada di depan Candi Brahma, didedikasikan untuk angsa suci Hamsa, kendaraan Dewa Brahma.
Sayangnya, Candi Garuda dan Candi Angsa masih dalam proses rekonstruksi atau hanya tersisa pondasinya.
Selain candi-candi utama tersebut, terdapat pula dua Candi Apit yang berdiri di antara deretan Candi Trimurti dan Candi Wahana, serta delapan Candi Kelir dan delapan Candi Patok yang berukuran kecil dan berfungsi sebagai pembatas atau penanda.
Pesona Tak Terbantahkan Candi Prambanan: Pengalaman yang Wajib Dicoba
Mengunjungi Candi Prambanan adalah sebuah pengalaman multisensori. Dari jauh, kemegahan siluet candi-candi yang menjulang sudah mengundang decak kagum. Saat Anda mendekat, detail arsitektur, ukiran relief, dan suasana spiritualnya akan semakin memukau.
Menjelajahi Kompleks Candi
Luangkan waktu yang cukup untuk berjalan-jalan di sekitar pelataran dalam dan mengamati setiap candi. Mulailah dari Candi Siwa, candi terbesar, dan perhatikan relief Ramayana yang indah. Anda bisa mencoba mengikuti urutan cerita dari satu candi ke candi berikutnya. Jangan ragu untuk masuk ke dalam candi-candi yang terbuka untuk umum dan melihat arca-arca dewa yang masih tersimpan. Rasakan aura kuno yang terpancar dari setiap batu.
Mengagumi Relief Ramayana
Relief Ramayana di dinding candi-candi Trimurti adalah salah satu mahakarya seni pahat klasik Jawa kuno. Kisah Rama dan Sinta yang heroik diukir dengan detail yang luar biasa, menggambarkan setiap adegan penting mulai dari penculikan Sinta oleh Rahwana hingga peperangan besar dan kembalinya Rama ke Ayodhya. Jika Anda tertarik dengan mitologi Hindu atau seni pahat, Anda bisa menyewa pemandu wisata lokal untuk menjelaskan setiap detail relief tersebut.
Pertunjukan Sendratari Ramayana Prambanan
Pengalaman paling ikonik yang tak boleh dilewatkan di Prambanan adalah menyaksikan Sendratari Ramayana. Pertunjukan tari kolosal ini menceritakan kembali epos Ramayana dalam bentuk tari tradisional Jawa yang megah, diiringi alunan gamelan yang memukau. Ada dua lokasi pertunjukan:
Panggung Terbuka (Open Air Theater): Dilakukan saat musim kemarau (biasanya Mei-Oktober), dengan latar belakang Candi Prambanan yang terang benderang oleh cahaya bulan. Ini adalah pengalaman yang sangat magis dan direkomendasikan.
Gedung Trimurti: Dilakukan saat musim hujan atau di luar jadwal panggung terbuka. Meskipun di dalam ruangan, kualitas pertunjukaya tetap memukau.
Pastikan Anda memesan tiket jauh-jauh hari, terutama untuk pertunjukan di panggung terbuka karena seringkali penuh.
Fotografi yang Memukau
Candi Prambanan adalah surga bagi para fotografer. Dari setiap sudut, Anda akan menemukan komposisi yang menawan. Pagi hari saat matahari terbit atau sore hari saat matahari terbenam adalah waktu terbaik untuk mendapatkan pencahayaan yang dramatis. Cahaya keemasan yang menyinari candi akan menciptakan siluet yang indah dan memperkuat detail ukiran. Jangan lupa untuk mengambil foto dari jarak jauh untuk menangkap kemegahan kompleks candi secara keseluruhan.
Fasilitas dan Aksesibilitas di Candi Prambanan
Sebagai salah satu destinasi wisata utama di Indonesia, Candi Prambanan dilengkapi dengan fasilitas yang cukup memadai untuk kenyamanan pengunjung.
Fasilitas Umum
Area Parkir: Tersedia area parkir yang luas untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.
Pusat Informasi: Terdapat pusat informasi di pintu masuk yang menyediakan peta dan brosur mengenai candi.
Toilet dan Musala: Fasilitas dasar tersedia di beberapa titik di sekitar kompleks.
Food Court dan Toko Souvenir: Berbagai pilihan makanan dan minuman tersedia di area food court. Anda juga bisa membeli oleh-oleh khas di toko-toko souvenir.
Penyewaan Sepeda/Kereta Mini: Untuk menjelajahi area kompleks yang luas, Anda bisa menyewa sepeda atau naik kereta mini yang disediakan.
Pemandu Wisata: Pemandu lokal berlisensi tersedia di pintu masuk jika Anda ingin mendapatkan penjelasan lebih detail mengenai sejarah dan arsitektur candi.
Akses Menuju Candi Prambanan
Candi Prambanan terletak sekitar 17 kilometer ke arah timur dari pusat kota Yogyakarta dan sekitar 50 kilometer ke arah barat dari Solo. Aksesibilitasnya sangat mudah, menjadikaya destinasi yang cocok untuk dikunjungi siapa pun.
Dari Yogyakarta:
Sewa Mobil: Ini adalah pilihan paling nyaman, terutama jika Anda bepergian bersama keluarga atau rombongan. Anda bisa menyewa mobil dengan sopir atau lepas kunci dari penyedia sewa mobil di Yogyakarta. Perjalanan memakan waktu sekitar 30-45 menit, tergantung kondisi lalu lintas.
Trans Jogja: Anda bisa naik Trans Jogja rute 1A atau 1B dari berbagai titik di Yogyakarta menuju Terminal Prambanan, yang berjarak sekitar 500 meter dari pintu masuk candi. Ini adalah pilihan yang paling ekonomis.
Taksi Online/Konvensional: Mudah ditemukan di seluruh Yogyakarta.
Bus Umum: Bus jurusan Solo juga melewati Prambanan.
Dari Solo:
Sewa Mobil: Sama seperti dari Yogyakarta, menyewa mobil dari penyedia sewa mobil di Solo adalah pilihan terbaik untuk kenyamanan. Perjalanan sekitar 1-1,5 jam.
Bus Umum: Banyak bus jurusan Yogyakarta dari Terminal Tirtonadi Solo akan melewati Prambanan. Anda bisa turun di Terminal Prambanan.
Tips Praktis untuk Kunjungan Maksimal ke Candi Prambanan
Agar kunjungan Anda ke Candi Prambanan berjalan lancar dan berkesan, perhatikan beberapa tips berikut:
Waktu Terbaik Berkunjung: Pagi hari (sekitar pukul 07.00-09.00) atau sore hari (sekitar pukul 15.00-17.00) adalah waktu terbaik. Udara tidak terlalu panas dan cahaya matahari lebih bagus untuk fotografi. Hindari kunjungan di tengah hari karena terik matahari bisa sangat menyengat.
Pakaian yang Nyaman: Kenakan pakaian yang ringan, longgar, dan menyerap keringat. Sepatu yang nyaman untuk berjalan adalah suatu keharusan karena Anda akan banyak berjalan kaki. Topi, kacamata hitam, dan tabir surya juga sangat disarankan.
Bawa Minuman: Pastikan Anda membawa cukup air minum untuk tetap terhidrasi, terutama jika Anda berkunjung di siang hari.
Siapkan Kamera: Jangan lupa kamera Anda dan pastikan baterainya penuh, karena ada begitu banyak momen indah yang bisa diabadikan.
Gunakan Pemandu Wisata: Jika Anda ingin memahami lebih dalam tentang sejarah, mitologi, dan arsitektur candi, menyewa pemandu wisata lokal akan sangat membantu. Mereka bisa memberikan konteks yang tidak Anda dapatkan dari sekadar membaca plakat.
Hormati Situs: Candi Prambanan adalah situs suci dan bersejarah. Harap berlaku sopan, jangan merusak atau mencoret-coret candi, dan patuhi semua peraturan yang ada.
Perhatikan Kebersihan: Buang sampah pada tempatnya dan jaga kebersihan lingkungan candi.
Beli Tiket Online: Untuk menghindari antrean panjang, terutama di musim liburan, pertimbangkan untuk membeli tiket masuk secara online melalui situs resmi atau platform terpercaya.
Menjelajahi Sekitar Prambanan: Destinasi Lain yang Tak Kalah Memukau
Kunjungan ke Candi Prambanan bisa Anda gabungkan dengan menjelajahi beberapa situs menarik laiya yang berada di dekatnya. Ini akan memberikan pengalaman wisata sejarah dan budaya yang lebih kaya.
1. Candi Sewu
Hanya beberapa ratus meter di sebelah utara Candi Prambanan, terdapat Candi Sewu, sebuah kompleks candi Buddha terbesar kedua di Indonesia setelah Borobudur. Namanya berarti “seribu candi”, meskipun jumlah aslinya tidak mencapai seribu. Candi Sewu memiliki arsitektur yang menawan dan arca Dhyani Buddha yang unik.
2. Candi Plaosan
Berjarak sekitar 1 kilometer ke arah timur laut dari Prambanan, Candi Plaosan adalah kompleks candi Buddha yang unik karena memiliki dua jenis candi, Plaosan Lor (Utara) dan Plaosan Kidul (Selatan). Candi ini juga dikenal dengan kisah cinta antara Rakai Pikatan (Raja Hindu) dan Pramodhawardhani (Putri Buddha), simbol toleransi beragama di masa lalu.
3. Ratu Boko
Situs Ratu Boko adalah reruntuhan istana kuno yang terletak di atas bukit, sekitar 3 kilometer ke arah selatan dari Prambanan. Meskipun bukan candi, situs ini menawarkan pemandangan matahari terbenam yang spektakuler dengan latar belakang Candi Prambanan dan Gunung Merapi di kejauhan. Keunikan Ratu Boko terletak pada arsitekturnya yang memadukan unsur Hindu dan Buddha, serta fungsinya sebagai kompleks istana dan permukiman.
4. Desa Wisata Bugisan
Terletak di sekitar Candi Plaosan, Desa Wisata Bugisan menawarkan pengalaman pedesaan yang otentik. Anda bisa melihat kehidupan masyarakat lokal, belajar membuat kerajinan tangan, atau sekadar menikmati suasana tenang pedesaan.
Kuliner di Sekitar Prambanan
Setelah lelah menjelajahi candi, saatnya memanjakan lidah dengan kuliner khas Jawa. Di sekitar area Prambanan, Anda bisa menemukan berbagai warung makan dan restoran yang menyajikan hidangan lokal. Jangan lewatkan untuk mencoba:
Gudeg: Makanan khas Yogyakarta ini terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan dan rempah-rempah, disajikan dengaasi, ayam, telur, dan krecek.
Sate Klatak: Sate kambing muda yang ditusuk menggunakan jeruji sepeda dan dibakar dengan bara arang, menghasilkan cita rasa unik dan empuk.
Bakmi Jawa: Mi goreng atau rebus dengan bumbu khas Jawa yang dimasak di atas arang.
Jenang Gempol: Jajanan pasar yang manis, terbuat dari bubur sumsum dan gempol (adonan tepung beras) disiram kuah santan dan gula merah.
Penginapan di Sekitar Prambanan
Meskipun sebagian besar wisatawan memilih menginap di Yogyakarta, ada beberapa pilihan penginapan di sekitar Prambanan jika Anda ingin lebih dekat dengan situs candi, terutama jika Anda berencana menonton Sendratari Ramayana di malam hari. Pilihan penginapan bervariasi dari guest house sederhana hingga hotel butik yang nyaman.
Kesimpulan: Gerbang Menuju Keagungan Masa Lalu
Candi Prambanan adalah lebih dari sekadar tumpukan batu kuno; ia adalah sebuah monumen keagungan peradaban, simbol toleransi, dan penjaga cerita-cerita dari masa lalu. Setiap ukiran, setiap arca, dan setiap batu di kompleks ini memiliki kisahnya sendiri, menunggu untuk diungkap oleh para penjelajah modern.
Dengan panduan lengkap ini, Anda diharapkan dapat merencanakan kunjungan yang tak terlupakan ke Candi Prambanan. Rasakan hembusan sejarah, kagumi arsitektur yang megah, dan biarkan diri Anda terhanyut dalam pesona abadi mahakarya Hindu ini. Selamat menjelajah, dan semoga perjalanan Anda penuh inspirasi dan kenangan indah!
Untuk informasi lebih lanjut mengenai Candi Prambanan, Anda bisa mengunjungi halaman Wikipedia resminya: Candi Prambanan di Wikipedia.





