Beranda ยป Blog ยป Menguak Jantung Sejarah Surabaya: Petualangan Abadi di Kota Tua Penuh Kisah Heroik

Menguak Jantung Sejarah Surabaya: Petualangan Abadi di Kota Tua Penuh Kisah Heroik

Rate this post

Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, mungkin lebih dikenal sebagai pusat ekonomi dan industri. Namun, di balik hiruk-pikuk modernitasnya, Surabaya menyimpan sebuah permata sejarah yang tak ternilai: Kota Tua Surabaya. Area ini bukan sekadar kumpulan bangunan kuno, melainkan saksi bisu perjuangan bangsa, perpaduan multikulturalisme, dan jantung kota yang berdenyut dengan memori. Bagi Anda yang mendambakan petualangan edukatif, napak tilas sejarah, dan eksplorasi arsitektur memesona, Kota Tua Surabaya adalah destinasi yang wajib masuk daftar kunjungan Anda.

Mari jelajahi lebih dalam apa yang ditawarkan oleh kawasan bersejarah ini:

Daftar Isi

Mengapa Kota Tua Surabaya Layak Dikunjungi?

Kota Tua Surabaya adalah museum terbuka yang merekam jejak tiga era penting: era kolonial Belanda, era perdagangan multikultural, dan era perjuangan kemerdekaan. Setiap sudut jalan, setiap fasad bangunan, menyimpan ceritanya sendiri. Inilah alasan mengapa area ini sangat memikat:

Arsitektur Kolonial yang Memukau

Berjalan di Kota Tua Surabaya bagaikan melangkah mundur ke masa lalu. Bangunan-bangunan bergaya arsitektur indische, neoklasik, dan art deco berdiri tegak, memamerkan kemegahan dan detail yang rumit. Dari gedung perkantoran kuno hingga rumah-rumah tinggal peninggalan Belanda, semuanya menawarkan estetika visual yang kaya, menjadi surga bagi para fotografer dan penggemar arsitektur. Anda akan menemukan bangunan-bangunan dengan pilar tinggi, jendela besar, dan ornamen klasik yang tak hanya indah, tetapi juga kokoh bertahan melintasi zaman. Ini adalah kesempatan langka untuk mengagumi keahlian para arsitek masa lalu yang merancang kota ini.

Saksi Bisu Sejarah Perjuangan

Surabaya menyandang predikat “Kota Pahlawan” bukan tanpa sebab. Di sinilah salah satu pertempuran paling heroik dalam sejarah kemerdekaan Indonesia terjadi, yaitu peristiwa 10 November 1945. Kota Tua, khususnya di sekitar Jembatan Merah, menjadi medan tempur utama. Setiap gedung di area ini seolah memiliki kisah tentang semangat juang dan pengorbanan para pahlawan. Mengunjungi tempat-tempat ini akan membangkitkan rasa nasionalisme dan memberikan perspektif mendalam tentang harga sebuah kemerdekaan.

Pusat Edukasi dan Budaya Multikultural

Selaiilai historisnya, Kota Tua Surabaya juga merupakan cerminan keragaman budaya. Kawasan ini dihuni oleh jejak komunitas Tionghoa, Arab, dan Eropa yang telah berinteraksi selama berabad-abad. Anda dapat menemukan klenteng kuno, masjid bersejarah, dan gereja bergaya Eropa yang berdampingan harmonis. Beberapa bangunan telah direvitalisasi menjadi museum atau pusat kebudayaan, menawarkan pengalaman edukasi yang interaktif dan memperkaya wawasan tentang perpaduan budaya yang membentuk Surabaya modern.

Destinasi Wajib di Kota Tua Surabaya

Siapkan kamera dan hati Anda, inilah beberapa titik yang tak boleh terlewatkan saat menjelajahi Kota Tua Surabaya:

Jembatan Merah: Episentrum Pertempuran

Jembatan Merah adalah ikon utama Kota Tua Surabaya, sekaligus saksi bisu pertempuran 10 November 1945 yang heroik. Nama “Merah” berasal dari warna pagar pembatasnya, meskipun ada pula yang mengaitkaya dengan darah para pejuang. Lokasinya strategis, melintasi Kali Mas yang dulunya menjadi jalur perdagangan utama. Di sekitar jembatan ini, suasana kuno masih sangat terasa dengan deretan bangunan lawas. Luangkan waktu untuk berdiri di atas jembatan, membayangkan hiruk-pikuk perdagangan masa lalu dan gempuran tembakan yang memekakkan telinga. Jembatan Merah bukan sekadar penghubung fisik, tetapi juga penghubung sejarah yang kuat. Untuk detail lebih lanjut tentang sejarahnya, Anda bisa mengunjungi halaman Wikipedia Jembatan Merah.

Gedung Internatio: Ikon Sejarah

Berdekatan dengan Jembatan Merah, Gedung Internatio adalah bangunan megah bergaya art deco yang pernah menjadi pusat perdagangan dan administrasi. Gedung ini juga memiliki peran krusial dalam Peristiwa 10 November, di mana Brigjen Mallaby tewas di dekatnya, memicu eskalasi pertempuran. Fasadnya yang kokoh dan arsitekturnya yang khas menjadikaya salah satu objek foto favorit. Meskipun tidak terbuka untuk umum secara keseluruhan, kemegahaya dari luar sudah cukup untuk membuat Anda terpukau.

House of Sampoerna: Perpaduan Warisan dan Budaya

Museum dan pabrik rokok House of Sampoerna adalah salah satu destinasi paling populer. Di sini, Anda dapat melihat secara langsung proses produksi rokok kretek secara manual yang masih dipertahankan, lengkap dengan para pekerja wanita yang cekatan melinting tembakau. Museumnya menyajikan sejarah keluarga Sampoerna, koleksi kendaraan antik, dan artefak terkait industri tembakau. Uniknya, dari sini Anda juga bisa mengikuti tur bus gratis “Surabaya Heritage Track” yang akan mengantar Anda berkeliling area Kota Tua dengan pemandu yang informatif.

Museum Sepuluh Nopember: Mengenang Para Pahlawan

Terletak di kompleks Tugu Pahlawan, Museum Sepuluh Nopember adalah tempat terbaik untuk memahami lebih dalam tentang Peristiwa 10 November. Koleksinya mencakup diorama pertempuran, senjata-senjata yang digunakan, rekaman suara pidato Bung Tomo, serta foto-foto bersejarah. Tata letak museum yang moderamun tetap relevan akan membawa Anda menyelami atmosfer perjuangan yang heroik. Museum ini adalah tempat wajib bagi siapa pun yang ingin menghargai jasa para pahlawan.

De Javasche Bank (Museum Bank Indonesia Surabaya): Jejak Moneter Masa Lalu

Bekas gedung De Javasche Bank ini kini menjadi Museum Bank Indonesia Surabaya yang megah. Bangunan kolonial yang indah ini tidak hanya menampilkan sejarah perbankan Indonesia dan koleksi mata uang kuno, tetapi juga menakjubkan dari segi arsitektur. Anda akan menemukan brankas raksasa, mesin hitung kuno, dan berbagai artefak yang menggambarkan evolusi sistem keuangan di Indonesia. Interiornya yang klasik dan terawat dengan baik menjadikaya pengalaman edukasi yang menyenangkan.

Klenteng Hong Tiek Hian: Oase Religi Tiga Etnis

Sebagai klenteng tertua di Surabaya, Klenteng Hong Tiek Hian yang dibangun pada abad ke-17 ini adalah simbol keberagaman. Klenteng ini merupakan tempat ibadah bagi tiga keyakinan: Taoisme, Buddhisme, dan Konghucu. Arsitekturnya yang khas Tiongkok dengan ukiraaga dan ornamen warna-warni sangat memukau. Berada di sini, Anda akan merasakan suasana yang sakral sekaligus mengagumi kekayaan budaya Tionghoa yang telah lama berakar di Surabaya.

Arab Quarter (Kampung Arab): Jejak Rempah dan Dakwah

Menjelajah Kampung Arab atau Ampel adalah pengalaman yang berbeda. Kawasan ini merupakan pusat penyebaran agama Islam di Jawa Timur dan dihuni oleh komunitas keturunan Arab. Lorong-lorong sempitnya dipenuhi toko-toko yang menjual aneka parfum, busana muslim, kurma, dan rempah-rempah. Di sini terletak juga Masjid Ampel, salah satu masjid tertua di Indonesia yang dibangun oleh Sunan Ampel, salah satu Wali Songo. Berziarah ke makam Sunan Ampel menjadi daya tarik utama, selain mencicipi kuliner khas Timur Tengah.

Jalan Kembang Jepun: Detak Nadi Perdagangan Lama

Dulunya dikenal sebagai pusat perdagangan malam dan pecinan Surabaya, Jalan Kembang Jepun tetap mempertahankan aura kesibukaya. Deretan toko-toko tua yang kini telah bertransformasi menjadi berbagai usaha modern tetap mengingatkan pada masa kejayaaya. Anda bisa menemukan jejak bangunan Tiongkok kuno di antara ruko-ruko yang lebih baru. Malam hari, jalan ini menjadi hidup dengan berbagai kuliner kaki lima yang menggoda selera.

Taman Sejarah: Relaksasi di Tengah Nostalgia

Taman Sejarah, yang terletak di depan Museum Bank Indonesia, adalah ruang hijau yang baru direvitalisasi. Dengan bangku-bangku taman, instalasi seni, dan lanskap yang asri, tempat ini menjadi area yang sempurna untuk beristirahat sejenak setelah berkeliling, sambil meresapi suasana historis di sekelilingnya. Area ini juga sering digunakan untuk kegiatan komunitas atau pertunjukan seni pada waktu tertentu.

Panduan Menuju dan Menjelajahi Kota Tua Surabaya

Kota Tua Surabaya cukup mudah diakses dan dijelajahi.

Akses ke Surabaya

Surabaya adalah kota besar yang dilayani oleh Bandara Internasional Juanda (SUB), stasiun kereta api besar (Gubeng dan Pasar Turi), dan terminal bus (Purabaya/Bungurasih). Dari mana pun Anda berasal di Indonesia, akses menuju Surabaya sangatlah beragam.

  • Pesawat: Banyak penerbangan langsung dari kota-kota besar Indonesia menuju Surabaya. Dari bandara, Anda bisa naik taksi, bus DAMRI, atau layanan transportasi daring menuju pusat kota.
  • Kereta Api: Jika Anda datang dari Jawa, kereta api adalah pilihan yang nyaman dan efisien. Stasiun Gubeng melayani rute jarak jauh utama.
  • Bus: Terminal Purabaya melayani rute bus antarkota dan antarprovinsi.

Setibanya di Surabaya, untuk kenyamanan maksimal menjelajahi Kota Pahlawan dan sekitarnya, Anda dapat mempertimbangkan untuk sewa mobil di Surabaya. Opsi ini memberikan fleksibilitas untuk mengunjungi berbagai destinasi tanpa terpaku jadwal transportasi umum. Jika Anda ingin petualangan yang lebih santai dan ditemani pengemudi berpengalaman, rental mobil Surabaya dengan sopir adalah pilihan bijak, terutama jika Anda membawa keluarga atau rombongan. Sopir lokal biasanya tahu jalan-jalan alternatif dan spot-spot menarik yang tidak ada di peta biasa.

Berkeliling di Kota Tua

Begitu tiba di area Kota Tua, ada beberapa cara untuk menjelajahinya:

  • Jalan Kaki: Ini adalah cara terbaik dan paling imersif untuk menikmati detail arsitektur dan suasana. Sebagian besar destinasi utama dapat dicapai dengan berjalan kaki.
  • Becak: Untuk pengalaman yang lebih tradisional, sewalah becak. Para pengayuh becak lokal biasanya sudah hapal rute-rute wisata dan bisa menjadi pemandu informal. Negosiasikan harga di awal.
  • Sepeda Onthel: Beberapa penyewaan sepeda onthel tersedia di sekitar area. Bersepeda di jalanan Kota Tua memberikauansa nostalgia yang kuat.
  • Surabaya Heritage Track: Manfaatkan bus gratis yang disediakan House of Sampoerna. Ini adalah cara yang efisien untuk melihat banyak spot dalam waktu singkat dengaarasi sejarah.

Tips Praktis untuk Petualang Kota Tua

Agar petualangan Anda di Kota Tua Surabaya berjalan lancar dan berkesan, perhatikan beberapa tips berikut:

Waktu Terbaik Berkunjung

Pagi hari (sekitar pukul 08.00-11.00) atau sore hari (pukul 15.00-18.00) adalah waktu terbaik. Udara tidak terlalu panas dan cahaya matahari ideal untuk fotografi. Hindari siang hari bolong karena cuaca Surabaya bisa sangat terik.

Persiapan Penting

  • Pakaiayaman: Kenakan pakaian yang ringan dan menyerap keringat.
  • Alas Kaki Nyaman: Anda akan banyak berjalan kaki, jadi sepatu kets atau sandal yang nyaman sangat penting.
  • Topi/Payung & Tabir Surya: Untuk melindungi diri dari sengatan matahari.
  • Air Minum: Tetap terhidrasi adalah kunci.
  • Power Bank: Pastikan gawai Anda tetap aktif untuk navigasi dan foto-foto.
  • Uang Tunai: Beberapa warung atau penjual becak mungkin tidak menerima pembayaran digital.

Jangan Lupa Jajal Kuliner Lokal

Surabaya adalah surga kuliner! Setelah lelah berkeliling, puaskan selera Anda dengan makanan khas seperti Rawon Setan, Lontong Balap, Tahu Campur, atau Sate Klopo. Di area Kota Tua dan sekitarnya, banyak warung makan legendaris yang patut dicoba.

Spot Foto Terbaik

Hampir setiap sudut Kota Tua adalah spot foto yang menarik. Namun, beberapa yang paling populer adalah:

  • Fasad Gedung Internatio dan gedung-gedung di Jalan Jembatan Merah.
  • Jembatan Merah dengan latar Kali Mas.
  • Depan Museum Bank Indonesia yang megah.
  • Lorong-lorong sempit di Kampung Arab dengauansa Timur Tengah.
  • Dinding-dinding Klenteng Hong Tiek Hian yang berwarna-warni.

Rahasia Lokal (Hidden Gem)

Untuk pengalaman yang lebih unik, cobalah menyusuri gang-gang kecil di sekitar Jalan Panggung dan Jalan Kembang Jepun. Di sana, Anda akan menemukan beberapa rumah tua yang masih dihuni dengan arsitektur yang sangat otentik dan jarang tersentuh revitalisasi. Beberapa di antaranya bahkan masih memiliki plakat nama jalan peninggalan Belanda yang terpasang di dinding. Ini adalah kesempatan untuk melihat sisi lain Kota Tua yang tidak selalu ditunjukkan di peta turis, sebuah “potret hidup” dari masa lalu. Anda juga mungkin menemukan warung kopi tradisional yang dikelola turun-temurun, menyajikan kopi robusta atau arabika lokal dengan cara penyeduhan yang masih sederhana namun kaya rasa.

Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

1. Apakah Kota Tua Surabaya aman untuk wisatawan?
Ya, Kota Tua Surabaya umumnya aman untuk wisatawan. Namun, seperti di destinasi wisata laiya, selalu waspada terhadap barang bawaan Anda, terutama di tempat ramai.

2. Berapa estimasi waktu yang dibutuhkan untuk menjelajahi Kota Tua Surabaya?
Untuk menikmati destinasi utama dan merasakan atmosfernya, setidaknya Anda membutuhkan waktu 4-6 jam. Jika ingin menjelajahi lebih detail atau mengunjungi semua museum, satu hari penuh akan lebih ideal.

3. Apakah ada tiket masuk untuk masuk ke area Kota Tua?
Tidak ada tiket masuk untuk memasuki area Kota Tua secara umum. Namun, beberapa museum atau destinasi spesifik seperti House of Sampoerna dan Museum Sepuluh Nopember mengenakan biaya tiket masuk terpisah.

4. Bagaimana cara terbaik menuju Kota Tua dari pusat kota Surabaya?
Anda bisa menggunakan taksi, transportasi daring, atau bus kota. Rute yang paling umum adalah menuju Jembatan Merah atau Gedung Internatio, yang merupakan titik awal yang baik untuk berjalan kaki.

5. Apakah ada pemandu wisata yang tersedia di Kota Tua Surabaya?
Ya, Anda bisa menyewa pemandu wisata lokal atau bergabung dengan tur yang diselenggarakan beberapa operator. Bus Surabaya Heritage Track dari House of Sampoerna juga menyediakan pemandu.