Ketika orang membicarakan pesisir Barat Selatan Aceh, seringkali imajinasi mereka tertuju pada keindahan ombak Lhoknga atau kelegendaan Tuan Tapa di Aceh Selatan. Namun, terselip di antara deretan pegunungan Bukit Barisan dan hamparan Samudra Hindia, terdapat sebuah kota kecil yang denyut nadinya berdetak lebih kencang dari tetangganya. Kota itu bernama Blangpidie.

Daftar isi
- Akar Sejarah: Mengapa Disebut Kota Dagang?
- Harmoni dalam Keberagaman: Pecinan di Tanah Serambi Mekkah
- Nadi yang Tak Pernah Tidur: Menjelajahi Pasar Pagi
- Transformasi Modern: Dari Ruko Tua ke Ikon Religi
- Surga Kuliner: Rasa Otentik Saudagar
- Tantangan Eksplorasi: Mengapa Anda Butuh Kendaraan Pribadi?
- Oase Penyejuk: Melarikan Diri dari Hiruk Pikuk
- Panduan Menuju Blangpidie
- Kesimpulan: Kota yang Menawarkan Lebih
Bagi masyarakat lokal, Blangpidie bukan sekadar ibu kota Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Ia memegang predikat tak tertulis namun diakui secara luas sebagai “Kota Dagang”. Julukan ini bukan sematan kosong. Sejak puluhan tahun silam, Blangpidie telah menjadi episentrum ekonomi, tempat bertemunya saudagar dari gunung, pesisir, hingga perantau lintas etnis.
Namun, apakah pesona “Kota Dagang” ini hanya soal transaksi jual beli? Tentu tidak. Di balik hiruk-pikuk pasar pagi dan deretan ruko tua, tersimpan lapisan sejarah, toleransi budaya, kuliner otentik, dan transformasi wajah kota yang kini bersolek modern.
Liputan mendalam ini akan mengajak Anda menelusuri lorong-lorong waktu di Blangpidie, merasakan atmosfer perniagaannya, dan menemukan alasan mengapa kota ini wajib masuk dalam bucket list perjalanan Anda di Aceh.
Akar Sejarah: Mengapa Disebut Kota Dagang?
Untuk memahami Blangpidie hari ini, kita harus menengok ke masa lalu. Posisi geografis Blangpidie sangat strategis. Ia menjadi titik temu (hub) bagi hasil bumi dari pedalaman—seperti pala, kakao, dan pinang—dengan komoditas laut dari para nelayan.
Sejarah mencatat, keberadaan pelabuhan lama di Ujong Serangga dan Susoh menjadi pintu gerbang masuknya pedagang asing, terutama etnis Tionghoa, ke wilayah ini sejak masa kolonial. Interaksi ini membentuk ekosistem pasar yang unik. Berbeda dengan kota-kota lain di Aceh yang mungkin didominasi oleh pertanian murni, Blangpidie tumbuh dengan mentalitas entrepreneurship yang kuat.
“Sejak zaman kakek saya, orang Blangpidie itu pantang diam. Kalau bukan ke kebun, ya ke pasar. Etos kerjanya keras karena persaingan di sini hidup. Itulah kenapa pasar Blangpidie tidak pernah tidur.” — H. Syahrul, salah satu tokoh pedagang senior di Pasar Blangpidie.
Jejak sejarah ini masih bisa dilihat secara visual. Jika Anda berjalan menyusuri Jalan Perdagangan, Anda akan melihat sisa-sisa bangunan toko tua berkonstruksi kayu yang bersanding dengan ruko beton modern. Di sinilah letak estetikanya; sebuah transisi zaman yang terekam dalam arsitektur kota.
Informasi lebih lanjut mengenai sejarah administratif wilayah ini dapat Anda baca di laman Wikipedia Blangpidie.
Harmoni dalam Keberagaman: Pecinan di Tanah Serambi Mekkah
Salah satu sisi paling menarik dari Blangpidie adalah keberadaan komunitas Tionghoa yang hidup berdampingan secara harmonis dengan masyarakat Aceh yang mayoritas Muslim. Di pusat kota, terdapat area yang sering disebut sebagai “Pejambon” atau kawasan pecinan kecil.
Di sini, toleransi bukan sekadar wacana. Saat azan berkumandang, aktivitas jual beli mungkin melambat sejenak untuk menghormati waktu shalat, dan sebaliknya, saat perayaan Imlek, suasana kota turut diwarnai kemeriahan yang wajar. Kedai kopi menjadi ruang cair di mana sekat-sekat etnis melebur. Anda bisa melihat “Tauke” (sebutan lokal untuk bos/pedagang Tionghoa) duduk semeja dengan petani lokal, membahas harga pinang sambil menyeruput kopi saring.
Fenomena sosiologis ini menjadikan Blangpidie sebagai model keberagaman yang unik di Aceh. Bagi wisatawan sosiologi atau fotografi, human interest di kawasan pasar ini adalah tambang emas visual yang tak ternilai.
Nadi yang Tak Pernah Tidur: Menjelajahi Pasar Pagi
Jika ingin merasakan jiwa sesungguhnya dari Blangpidie, Anda harus bangun pagi. Sangat pagi.
Sekitar pukul 05.00 WIB, saat kabut tipis masih menyelimuti kaki bukit, Pasar Blangpidie sudah menggeliat. Mobil-mobil pikap pengangkut sayur dari dataran tinggi Gayo atau Brastagi mulai bongkar muat. Di sisi lain, becak motor membawa ikan segar yang baru saja didaratkan di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Ujong Serangga.
Suara tawar-menawar, aroma rempah Aceh yang kuat, amis ikan segar, dan wangi kopi yang baru diseduh dari warkop-warkop pinggir jalan menciptakan simfoni sensori yang memikat.
“Pasar ini adalah barometer ekonomi Barat Selatan. Kalau pasar Blangpidie lesu, berarti ekonomi daerah sekitar sedang demam. Tapi syukurnya, di sini hampir selalu ramai.” — Seorang pedagang rempah di Pasar Tingkat.
Bagi wisatawan, ini adalah tempat terbaik untuk berburu oleh-oleh khas atau sekadar mengamati dinamika sosial masyarakat Abdya yang egaliter dan terbuka.
Transformasi Modern: Dari Ruko Tua ke Ikon Religi
Blangpidie tidak terjebak di masa lalu. Dalam satu dekade terakhir, “Kota Dagang” ini bersolek mempercantik diri. Uang yang berputar dari hasil perdagangan dan perkebunan perlahan mewujud dalam pembangunan infrastruktur yang megah.
Puncak dari transformasi ini adalah berdirinya Masjid Agung Baitul Ghafur.
Terletak agak sedikit ke pinggir dari pusat pasar lama, masjid ini menjadi simbol baru kemakmuran dan religiusitas masyarakat Abdya. Dengan kubah emas yang berkilauan dan arsitektur ala Timur Tengah, masjid ini menjadi kontras yang indah dengan hiruk pikuk pasar tradisional.
Wisatawan kini memiliki pola kunjungan baru: Pagi hari berbelanja atau berbisnis di pasar, sore harinya mencari ketenangan spiritual di pelataran masjid yang luas dan asri. Ini menunjukkan bahwa Blangpidie mampu menyeimbangkan urusan duniawi (dagang) dan ukhrawi (ibadah) dengan sangat baik.
Surga Kuliner: Rasa Otentik Saudagar
Perjalanan menelusuri kota tidak akan lengkap tanpa mencicipi rasanya. Sebagai kota dagang, Blangpidie menjadi melting pot (kuali peleburan) kuliner. Ada pengaruh masakan Aceh Besar, Minang, hingga peranakan.
Namun, ada satu menu yang wajib hukumnya untuk dicoba: Mie Kocok Blangpidie.
Berbeda dengan Mie Aceh yang kaya rempah merah dan pedas, Mie Kocok Blangpidie memiliki karakter kuah kaldu yang kental, gurih, dan sedikit manis, disajikan dengan irisan daging sapi empuk dan toge segar.
- Rekomendasi: Cobalah mampir ke kedai-kedai legendaris di deretan ruko tua pusat kota.
- Warkop Culture: Budaya ngopi di sini sangat kuat. Kopi bukan sekadar minuman, tapi “bahan bakar” negosiasi bisnis. Cobalah duduk di warkop, pesan segelas kopi sanger, dan dengarkan obrolan warga tentang harga sawit atau politik lokal.
Tantangan Eksplorasi: Mengapa Anda Butuh Kendaraan Pribadi?
Inilah realita yang perlu diketahui setiap pelancong. Meskipun Blangpidie adalah kota dagang yang sibuk, sistem transportasi publik untuk wisatawan belum sepenuhnya terintegrasi.
- Labi-labi (Angkot): Umumnya hanya beroperasi pada jam pasar dan rutenya tetap (antar kecamatan).
- Becak Motor: Asyik untuk jarak dekat, namun kurang nyaman untuk jarak jauh atau saat cuaca panas terik.
- Jarak Destinasi: Lokasi menarik di Abdya terpencar. Pasar ada di pusat, Masjid Agung di Seunaloh, Pantai Jilbab di Susoh, dan Pemandian Krueng Baru di perbatasan.
Mengandalkan transportasi umum akan sangat membatasi ruang gerak Anda. Bayangkan Anda baru selesai menikmati sunset di pantai Susoh dan ingin mengejar shalat Maghrib di Masjid Agung, lalu lanjut makan malam di pusat kota. Rute ini hampir mustahil dilakukan dengan nyaman tanpa kendaraan pribadi.
Di sinilah pentingnya merencanakan moda transportasi Anda. Bagi pebisnis atau wisatawan yang menginginkan efisiensi waktu dan kenyamanan (terutama AC di tengah cuaca pesisir yang panas), opsi terbaik adalah menggunakan jasa rental mobil Blangpidie. Dengan menyewa mobil, Anda memegang kendali penuh atas waktu Anda, bebas berhenti di spot foto mana pun, dan bisa membawa oleh-oleh sebanyak apapun tanpa repot menentengnya.
Oase Penyejuk: Melarikan Diri dari Hiruk Pikuk
Setelah lelah menelusuri jejak perniagaan, kemana para “saudagar” ini melepas penat? Blangpidie diberkahi alam yang luar biasa indah.
1. Pemandian Krueng Baru
Hanya berjarak sekitar 15-20 menit berkendara dari pusat kota, Anda akan menemukan sungai dengan air sebening kristal yang mengalir langsung dari hutan lindung Bukit Barisan. Airnya dingin menusuk tulang, sangat kontras dengan udara pantai.
- Aktivitas: Berenang, piknik keluarga, atau sekadar makan rujak di bebatuan sungai.
2. Pantai Ujong Serangga & Bali
Di sore hari, warga tumpah ruah ke kawasan pesisir Susoh. Pantai Ujong Serangga menawarkan pemandangan aktivitas nelayan, sementara Pantai Bali (dinamakan demikian karena keindahannya) menjadi spot terbaik memburu matahari terbenam.
“Blangpidie itu paket lengkap. Mau cari uang ada pasarnya, mau cari Tuhan ada masjid agungnya, mau cari ketenangan ada sungainya.” — Kutipan dari seorang Blogger Travel lokal.
Panduan Menuju Blangpidie
Bagi Anda yang tertantang untuk menelusuri jejak kota dagang ini, berikut akses yang bisa ditempuh:
- Jalur Udara: Bandara Kuala Batu (Susoh) melayani penerbangan perintis dari Bandara Kualanamu (Medan) atau Sultan Iskandar Muda (Banda Aceh) dengan jadwal tertentu (biasanya Susi Air).
- Jalur Darat:
- Dari Banda Aceh: Sekitar 7-8 jam perjalanan via pesisir barat.
- Dari Medan: Sekitar 9-10 jam via jalur tengah (Sidikalang-Subulussalam).
Untuk navigasi yang akurat selama di dalam kota, Anda bisa selalu mengandalkan Google Maps.
Kesimpulan: Kota yang Menawarkan Lebih
Blangpidie mungkin tidak seterkenal Bali atau se-ikonik Yogyakarta. Namun, bagi mereka yang menyukai wisata dengan kedalaman cerita, kota ini menawarkan narasi yang kaya.
Ia adalah kisah tentang ketangguhan ekonomi rakyat, tentang bagaimana perdagangan bisa menyatukan perbedaan, dan bagaimana sebuah kota kecil di pesisir Aceh terus berdenyut hidup di tengah perubahan zaman.
Jangan hanya mendengar ceritanya. Datanglah, rasakan aroma pasarnya, sapa pedagangnya yang ramah, dan nikmati kenyamanan berkeliling Bumoe Sigupai.
Dan ingat, agar petualangan menelusuri jejak “Kota Dagang” ini terasa sempurna tanpa hambatan mobilitas, pastikan armada perjalanan Anda sudah siap. Hubungi penyedia rental mobil Blangpidie terpercaya untuk menjadi mitra perjalanan Anda.
Blangpidie menunggu untuk Anda jelajahi. Selamat bertualang!





